Melihat permasalahan-permasalahan tersebut, Kabari dari Rembang berupaya menciptakan solusi melalui program-program pendampingan. Yullia Ayu, selaku Manajer Program Kabari mengatakan, “Survei dan riset dari Yayasan Lasem Heritage menjadi basis rancangan program. Program pendampingan sebagai permulaan dilaksanakan selama 4 tahun, mulai 2022.
Peserta untuk babak pertama berjumlah 15 orang, terdiri dari pemilik rumah batik, penjahit, hingga desainer fesyen lokal. Mereka akan didampingi oleh para mentor yang mumpuni di bidang masing-masing, untuk nantinya menciptakan produk kreatif unggulan dari batik Lasem.”
Materi penguatan dalam program Kabari dari Rembang terdiri dari materi tentang nilai penting Kawasan Cagar Budaya Lasem, sejarah batik Lasem, modal sosial, riset pasar, kolaborasi komunitas, design thinking, kewirausahaan sosial, riset budaya sebagai inspirasi karya, pengenalan ekonomi sirkular dan literasi keuangan, prinsip-prinsip desain umum, prinsip desain batik dan penjenamaan atau branding.
Program pendampingan di tahun pertama terkonsentrasi pada pelatihan-pelatihan secara daring dan luring. Setelah satu tahun, program-program ini berpotensi untuk berkembang dan melalui proses penajaman sehingga mampu menjadi program yang berhasil memperkuat ikon Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan dan pelestarian batik di Kabupaten Rembang.
“Kami berupaya merevitalisasi batik Lasem dari ‘akar’-nya; sentuhan baru pada motif, komposisi motif, komposisi warna, sampai produk kreatif turunannya. Outcome program ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah insentif ekonomi untuk pelaku batik di Lasem. Juga, dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pariwisata budaya mengingat Lasem sekarang sedang menuju penetapan Kawasan Cagar Budaya Nasional,” tambah Yulia yang juga mengemas program wisata interpretatif Batik Tiga Negeri Lasem sejak 2019 dalam program Virtual Heritage Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Harapannya, saya dan teman-teman peserta akan memiliki bekal ilmu dan wawasan yang lebih maju dan berkembang tentang industri fesyen juga industri batik tulis Lasem. Ilmu tersebut pasti akan bermanfaat untuk kemajuan usaha kita, bahkan mungkin ke kancah global. Kita juga bisa menerapkan atau menularkan ilmu ini ke orang-orang sekitar. Harapannya juga agar industri batik tulis Lasem yang selama pandemi atau pascapandemi lesu, bisa bangkit kembali. Semoga program KABARI bisa lebih luas lagi jangkauannya, pesertanya bisa lebih banyak, atau bisa disusun untuk program-program berikutnya agar lebih terasa manfaatnya untuk seluruh sektor (pengrajin batik, penjahit, designer),” ujar Hawien Wilopo, pemilik rumah batik sekaligus desainer fesyen di Lasem, salah satu peserta program KABARI.














