Perlakuan Pemerintah pada Atlet Difabel jadi Contoh Negara Lain

oleh

Solo – National Paralympic Committee (NPC) Indonesia menyebut perlakuan pemerintah Republik Indonesia terhadap atlet difabel menjadi contoh negara lain.

International Relations NPC Indonesia Sukanti Rahardjo Bintoro mengatakan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo atlet difabel yang meraih medali memperoleh bonus yang sama besar dengan atlet nondifabel.

“Ini pertama kalinya, sumber dana kita dari pemerintah dan kami sangat mengapresiasi itu,” kata Sukanto di Solo, Senin.

INFO lain :  Atlet Asal Kudus Peraih Medali di PON Papua Terima Bonus

Kabar ini didengar oleh negara lain yang tergabung dalam ASEAN Para Sports Federation (APSF) dan mereka ingin mengetahui lebih dalam sistem tersebut.

“Informasi ini dipakai oleh mereka untuk melobi pemerintah mereka sehingga sedikit demi sedikit kesenjangan antara atlet difabel dengan nondifabel menjadi lebih dekat,” kata Sukanti.

INFO lain :  PSIS Putus Kontrak Nerius Alom Akibat Indisipliner

Menuut dia, Indonesia diacungi jempol karena menjadi perintit dalam mengupayakan persamaan hak untuk atlet difabel dan nondifabel.

Sukanti juga menerangkan bahwa Indonesia pertama kali mengirimkan atlet difabel ke ASEAN Para Games di Malaysia pada 2001.

“Yang pertama namanya YPAC, kemudian YPOC (Yayasan Pembina Olahraga Cacat), kemudian BPOC (Badan Pembina Olahraga Cacat),” kata dia.

INFO lain :  Biaya Mahal Jika Sepeda Motor di MotoGP Kecelakaan

Pada 2005 ada keputusan dari Komite Paralimpiade Internasional (IPC) bahwa setiap negara yang menjadi anggota IPC harus menggunakan kata paralimpik pada nama organisasinya.

“Boleh menggunakan Bahasa Inggris, boleh bahasa nasional. Akhirnya Indonesia pakai nama National Paralympic Committee,” tutup Sukanti.

Sumber Antara