DEMAK – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Demak terbilang memprihatinkan. Data dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Demak menyebutkan, angka prevalensi stunting di wilayahnya mencapai 50,23 persen atau masuk tertinggi ke tujuh di Jawa Tengah.
Tak hanya itu, kabupaten Demak juga menjadi satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting pada tahun 2019.
Ahli Gizi dari Puskesmas 2 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak Galih Syevi W mengatakan, stunting mengakibatkan penurunan kualitas kesehatan dan intelegensi yang sulit diperbaiki jika anak sudah melewati usia dua tahun.
Ia menyebutkan, stunting disebabkan lantaran kurangnya asupan nutrisi, gizi, pola asuh, dan sanitasi lingkungan.
“Untuk itu, salah satu kunci dari pencegahan stunting adalah memantau berat dan tinggi badan anak serta memenuhi kebutuhan gizi dalam masa 1000 Hari Pertama Kehidupan mereka,” ujarnya, Senin (27/1).
Selain ini, pihaknya juga menyebutkan kasus stunting di kecamatan Sayung pada 2019 lalu sebanyak 29,7 persen dari total 8.580 balita.
“Di Puskesmas 1 Sayung kemarin terdata 19,26 anak menderita stunting dari 3.879 balita. Sedang, di Puskesmas dua lebih rendah, yakni 9,81 persen dari 4.701 balita,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk kasus stunting di desa Karangasem sendiri ditemukan 47 kasus dari total 404 balita.
“Secara keseluruhan angka stunting fluktuatif di kecamatan Sayung,” katanya.
Perangkat desa Karangasem, Mufid mengaku terbantu atas kegaitan tersebut. Selama ini, pihaknya mengakui mengalami kesulitan dalam mendeteksi gejala anak terkena stunting.
“Berkat krgiatan ini, semoga turut membantu kami untuk melakukan pencegahan dini,” katanya.(mht)














