Fakta PT Sritex dan Anak Usaha Terancam Pailit

oleh -251 views

Semarang – PT Sritex atau PT Sri Rejeki Isman terancam pailit. Perusahaan garment di Sukoharjo itu kini menghadapi masalah hutang dan digugat ke pengadilan kreditornya.

Gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah diajukan ke Pengadilan Niaga pada PN Semarang 19 April lalu dalam perkara nomor 12/Pdt.Sus-PKPU/2021/PN Niaga Smg. PKPU juga diajukan terhadap tiga anak usahanya.

PKPU diajukan CV Prima Karya, beralamat di Jl. Ir. H. Juanda No. 266 A, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta yang diwakili Djoko Prananto ST. PKPU diajukan tim kuasa hukumnya dari kantor Hukum SM Tamba & Associates di Tebet Jakarta Selatan.

PKPU ditujukan terhadap PT Sri Rejeki Isman, Tbk di Jl.KH Samanhudi No.88, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo (Termohon I), PT Sinar Pantja Djaja di Jl. Condrokusumo No.1, Semarang, Kota Semarang (Termohon II).
PT Bitratex Industries di Jl. Brigjen S Sudiarto KM.11 Semarang, Kelurahan Plamongansari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang (Termohon III), PT Primayudha Mandirijaya di Dk Kadang, Kelurahan Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali (Termohon IV).

CV Prima Karya, merupakan perusahaan konstruksi pembangunan dan/atau renovasi gedung/bangunan. Kerjasama Pemohon CV Prima Karya dengan para Termohon didasarkan kerjasama pekerjaan.

Pekerjaan Renovasi

Informasi yang dihimpun, Termohon I menunjuk Pemohon melakukan pekerjaan borongan renovasi peninggian atap gedung finishing I di Sukoharjo (“Pekerjaan Renovasi”) berdasarkan Surat Perjanjian No.001/SP/I/2020 tanggal 15 Desember 2020. Proyek senilai Rp 5,5 miliar dengan pembayaran dua termin. Kerjasama itu dilakukan dengan penjamin Termohon II, III dan IV).

Sesuai berita Acara pemeriksaan Progress No.001/BA/PK/I/2021 tanggal 8 Januari 2021 (mncapai mencapai progress 83.15 persen), dan No.002/BA/PK/I/2021 tanggal 15 Januari 2021 mencapai progress 100 persen.

Atas pekerjaan itu, CV Prima Karya telah mengirimkan tagihannya tertanggal 11 dan 18 Januari 2021 namun belum dibayar.

Beralasan kesulitan arus kas, PT Sritex meminta kelonggaran waktu 30 hari kalender sesuai Perjanjian Kesanggupan Pembayaran tanggal 28 Januari 2021. Namun hingga jatuh tempo tanggal 1 Maret 2021, PT Sritex tak membayar sepeserpun.

Perihal itu, Surat Peringatan dilayangkan pertama tanggal 3 Maret 2021 yang ditujukan kepada Termohon PKPU I (juga kepada Termohon PKPU II, Termohon PKPU III, dan Termohon PKPU IV selaku penjamin). Peringatan Kedua tanggal 12 Maret 2021 yang ditujukan kepada pihak sama.

Terkait dengan kelalaian Termohon PKPU I dalam melaksanakan kewajibannya melunasi pembayaran, Termohon II, III dan IV secara tanggung renteng dinilai ikut menjamin pelunasan sesuai perjanjian.

Perjanjian Pemberian Jaminan Perusahaan 1, 2 dan 3 dibuat tertanggal 28 Januari 2021yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Termohon II, III dan IV dengan Pemohon PKPU.

Pada perjanjian jaminan itu pada pokoknya mengatur, Termohon II, III dan IV menjamin dan mengikatkan diri untuk memberikan jaminan berupa Jaminan Perusahaan (Corporate Guarantee) kepada Pemohon PKPU.

“Jika PT Sritex lalai atau wanprestasi dalam melaksanakan kewajiban pembayaran atas utangnya berdasarkan Perjanjian Kesanggupan, maka Termohon II, III dan IV secara tidak dapat ditarik kembali dan tanpa syarat wajib membayar sepenuhnya seluruh kewajiban Termohon PKPU ,” demkian dalil Pemohon dalam gugatannya.

Termohon II, III dan IV telah setuju melepaskan semua dan setiap hak untuk meminta kepada Termohon PKPU I supaya harta bendanya disita dan digunakan lebih dulu untuk melunasi utangnya kepada Pemohon PKPU.

Termohon II, III dan IV setuju menjadi pihak yang berkewajiban utama secara tanggung renteng dan/atau tanggung menanggung bersama-sama dengan Termohon I membayar sepenuhnya atas kerugian yang diderita Pemohon PKPU.

Kreditor Lain

Menurut CV Prima Karya, selain dengan pihaknya, para Termohon juga memiliki kreditor lain yang masih belum dibayar.

Kreditor lain Termohon PKPU I, PT Sritex yakni PT Elzio Mobile Indonesia, beralamat di Komp. Ruko ITC Roxy Mas, Blok D1 No.18, Jl. KH. Hasyim Ashari, Jakarta Pusat – 10150, Indonesia.

Termohon PKPU I disebut memiliki utang kepada PT Elzio Mobile Indonesia sebesar Rp.3.467.489.892 berdasarkan Invoice tertanggal 17 November 2020 dengan Nomor Faktur: 102356.

Sementata berdasarkanLaporan Keuangan Konsolidasian PT Sri Rejeki Isman, Tbk (in casu Termohon PKPU I) Dan Entitas Anak Untuk Tahun Yang Berakhir Pada 31 Desember 2020 Dan Laporan Auditor Independen yang kami peroleh dari website resmi PT Bursa Efek Indonesia melalui tautanhttps://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/ListedCompanies/Corporate_Actions/New_Info_JSX/Jenis_Informasi/01_Laporan_Keuangan/02_Soft_Copy_Laporan_Keuangan//Laporan%20Keuangan%20Tahun%202020/Audit/SRIL/Report%20PT%20Sri%20Rejeki%20Isman%20Tbk%20-%2031%20Dec%202020.pdf(selanjutnya disebut “Laporan Keuangan SRIL”), selain PT Elzio Mobile Indonesia tersebut di atas, Pemohon PKPU juga mengetahui bahwa per tanggal 31 Desember 2020, Termohon PKPU memiliki kreditor lainnya, yaitu diantaranya:

1) PT Bank HSBC Indonesia;

2) PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk.;

3) PT Bank QNB Indonesia, Tbk.;

4) PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk.;

5) MUFG Bank, Ltd;

6) Standard Chartered Bank;

7) Taipei Fubon Commercial Bank Co., Ltd.;

8) Bank of China (Hong Kong) Limited;

9) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk;

10) PT Bank DKI;

11) PT Bank Central Asia, Tbk;

12) PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk;

13) PT Bank DBS Indonesia;

14) Bank Emirates NBD;

15) Cathay United Bank;

16) PT Bank Permata, Tbk.;

17) PT Bank KEB Hana Indonesia;

18) Para Pemegang Medium Term Note (MTN) SRITEX Tahap I Tahun 2017

19) Para Pemegang Medium Term Note (MTN) SRITEX Tahap II Tahun 2017

20) Para Pemegang Medium Term Note (MTN) SRITEX Tahap III Tahun 2018

Kreditor Lain Termohon II

Selaian memiliki tagihan ke Termohon I PT Sritex, PT Elzio Mobile Indonesia juga memiliki piutang kepada Termohon II sebesar Rp.318.603.889. Hal itu sesuai bukti Invoice tertanggal 10 Desember 2020 dengan Nomor Faktur 105344.

Sementara dengan kreditor lain dari Termohon PKPU III, PT Elzio Mobile Indonesia
juga memiliki tagihan Rp.484.928.915 yang belum dibayar. Itu sesuai bukti Invoice tertanggal 22 Oktober 2020 dengan Nomor Faktur: 104278.

Terakhir, PT Elzio Mobile Indonesia juga memiliki tagihan ke Termohon IV sebesar Rp.436.071.213 berdasar Invoice tertanggal 15 Oktober 2020 dengan Nomor Faktur 103713.

Berdasar dalil itu, Pemohon PKPU memuntut majelis hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang yang menangani memutuskan, mengabulkannya. Dan menyatakan PT Sri Rejeki Isman, Tbk, PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries/PT Primayudha Mandirijaya
berada dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

“Menetapkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara terhadapTermohon PKPU I, Termohon PKPU II, Termohon PKPU III danTermohon PKPU IV, untuk jangka waktu paling lama 45 (empat puluh lima) hari sejak dikeluarkannya putusan ini,” demikian petitum Pemohon.

Menunjuk dan mengangkat Hakim Pengawas untuk mengawasi proses PKPU. Menunjuk dan mengangkat Zockye Moreno Untung Silaen, Syarif Hidayahtullah, Bensopad, Kurator dan Pengurus sebagai Tim Pengurus dalam proses PKPU.

(rdi)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.