Praperadilan Polrestabes Semarang. Bos Air Minum Aguaria Sebut Penyidik Rekayasa Perkara

oleh -114 views

Ilustrasi

Semarang – Penyidik Polrestabes Semarang dinilai tidak netral dan merekayasa penyidikan atas penetapan tersangka bos perusahaan air minum kemasan PT Indotirta Jaya Abadi atau yang lebih dikenal dengan Aguaria, Oenny Jauwhannes.

Penetapan tersangka Oenny atas perkara apenipuan dan penggelapan uang investasi dinilai tak obyektif.

Hal itu diungkapkan Oenny Jauwhannes lewat kuasa hukumnya, H Boedhy Koeswiharto, Nugroho Budiantoro, Taufiq Arif Martadi dalam praperadilan yang diajukannya ke PN Semarang.

Praperadilan diajukan 17 Juni lalu dan teregister nomor perkara 3/Pid.Pra/2020/PN Smg. Oenny Jauwhannes (66), warga Jalan Plamongan Indah Blok C 27 No. 23, RT. 008, RW. 008, Kelurahan Plamongan Sari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.

Praperadilan melawan Kapolrestabes Semarang. Oenny ditetapkan tersangka atas dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan. Ia dijerat Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP, sebagaimana Laporan Polisi Nomor LP / B / 23 / I / 2020 / jateng / Restabes Smg tanggal 13 Januari 2020 atas nama pelapor Vicentius Robert Sulistio.

Oenny mengungkapkan, kasus itu pernah dilaporkan alm. Samuel Hendro Sulistio sesuai Laporan Polisi Nomor LP / B / 216 / V / 2018 / JATENG / RESTABES SMG tanggal 17 Mei 2018. Atas perkara tersebut telah diterbitkan Surat Ketetapan Nomor S.TAP / 89 c / III / 2020 / Restabes Tentang Penghentian Penyidikan tanggal 27 Maret 2020. Perkara itu dianggap wanprestasi atau keperdataan.

Atas laporan Vicentius Robert Sulistio yang ditangani penyidik Brigadir Agung Yulianto SH dinilai dipaksakan. Penyidik dianggap membelokkan permasalahan yang sebenarnya hutang piutang, dijadikan seolah olah sebagai investasi modal.

Hal itu mengacu adanya Akta Pengakuan Hutang No. 03 tanggal 15 September 2015. Serta Akta Pengakuan Hutang No. 04 tanggal 15 September 2015.

Tak Netral

Penyidik dianggap tidak netral dalam melakukan proses penyidikan dengan cara mengaburkan fakta atau bukti. Serta keterangan saksi – saksi dengan cara tidak menyajikan fakta atau peristiwa yang sebenarnya secara utuh.

“Terbukti ada keberpihakan Termohon terhadap Pelapor. Termohon tidak netral, tidak obyektif dan telah merekayasa perkara yang sebenarnya adalah perkara keperdataan yaitu hutang piutang,” sebut tim kuasa hukum Oenny dalam permohonan praperadilannya.

Hutang piutang terjadi antara Oenny dengan Samuel Hendro Sulistio selaku kuasa dari Agustinus Jhonny Teguh, Felix Sony Teguh, Nancy Triana dan Ny Helena Lenny Johar Teguh.

Oenny menyatakan tidak mengenal dan tidak mempunyai hubungan hukum dengan Vincentius Robert Sulistio sebagai pelapor dugaan penipuan penggelapan.

Sesuai Akta Pengakuan Hutang No. 03 dan No. 04 yang dibuat oleh dan di hadapan notaris / PPAT Mariati Hurip SH, hubungan hukum Oenny yaitu dengan alm. Samuel Hendro Sulistio.

Tak hanya itu, penetapan Oenny sebagai tersangka dianggap tidak prosedur dan melanggar aturan. Pasalnya saat penyelidikan dan penyidikan.

“Termohon tidak mengakomodir alat – alat bukti dari Pemohon,” jelas dia.

Akomodir Alat Bukti

Di antaranya akta nomor 3 dan 4. Bukti pembayaran Oenny ke Agustinus Jhonny Teguh, Felix Sony Teguh, Nancy Triana dan Ny Helrna Lenny Johar Teguh melalui Godeliva sebesar Rp.12.582.339.142.

Putusan Pailit terhadap Pemohon No. 19 / Pdt.Sus – Pailit / 2017 / PN. Niaga Semarang tanggal 25 Januari 2018. Pengumuman Pailit PT Indo Tirta Jaya Abadi (Dalam Pailit) dan Undangan Rapat Kreditor Pertama.

Pengumuman lelang harta eksekusi harta pailit PT Indo Tirta Jaya Abadi. Daftar tagihan Kreditur Konkuren Tetap PT Indo Tirta Jaya Abadi.

Penyidik juga dinila tidak obyektif karena tidak memeriksa notaris / PPAT Mariati Hurip SH, selaku pihak pembuat akta pengakuan hutang.

Tidak memeriksa Kurator dan Pengurus Andry Abdillah dan Agus Gunawan berkaitan dengan perkara pailit pada Pemohon.

Menurutnya, selain tidak ada pidana yang dilakukan Oenny, juga tidak ada kerugian yang dialami Agustinus Jhonny Teguh, Felix Sony Teguh, Nancy Triana dan Ny Helrna Lenny Johar Teguh. Sebab hutang kepada mereka sebesar Rp 11,5 miliar telah dibayar Rp 12,582 miliar (pokok Rp 7,250 miliar dan bunga Rp 5,332 miliar).

Sementara sisa kekurangan bayar hutang Oenny sudah menjadi boedel pailit dan pembayarannya menjadi beban Kurator dan pengurus.

(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *