Perkara Masuk Kesaksian. Terungkap Kejamnya Penyiksaan ART di Semarang

oleh -60 views

Ilustrasi

Semarang – Pemeriksaan perkara dugaan penyiksaan terhadap seorang Asisten Rumah Tangga (ART) di Kota Semarang, Ika Musriati memasuki pemeriksaan saksi-saksi. Perkara menyeret Rostin Sucipto binti Sucipto Lelono (28), warga Perumahan Graha Padma Jl. Taman Lavender I No.31 Rt.03 Rw.06 Kelurahan Tambakkharjo Kecamatan Semarang Barat.

Ia telah ditahan sejak 25 April 2020 lalu. Perkara teregister nomor 420/Pid.Sus/2020/PN Smg.

“Sidangnya sudah memasuki pemeriksaan saksi-saksi,” kata Noerma Soejatiningsih, Panitera Muda Pidana pada Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (5/8/2020).

Informasi yang dihimpun, berdasarkan surat dakwaan jaksa penuntut umum, kasus dugaan KDRT terjadi September hingga Desember 2019 di rumah Rostin di Perumahan Graha Padma. Korban, Asisten Rumah Tangganya (ART), Ika Musriati, warga Jalan Cimanukk VIII No.84 Rt.08 Rw.02 Kelurahan Mlatiharjo Semarang Timur Kota Semarang.

Awalnya Ika Musriati mencari lowongan pekerjaan melalui aplikasi Facebook untuk tawaran pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji Rp 1,6 juta /bln. Ika Musriati lalu menghubungi nomor kontak yang ada di iklan tersebut.

Ika sepakat bertemu dengan Terdakwa. Pada Senin 17 Juni 2019 sekitar pukul 18.00 Wib, Ika Musriati berangkat dari rumahnya Jln. Cimanuk VIII No.84 Rt.08 Rw.02 Kelurahan Mlatiharjo Semarang Timur Kota Semarang.

Rostin bersama suaminya, Stevan Pranoto, dan Ika Musriati setuju untuk bekerja dengan diberikan fasilitas kamar tidur, tempat tidur, almari pakaian, kipas angin.

Selama 2 bulan pertama sejak bekerja di rumah itu Ika Musriati rutin memberitahukan kabar dirinya kepada keluarganya melalui handphone miliknya.

Kekerasan

Kekerasan mulai terjadi sekitar September 2019. Ika diduga dipukul dengan tangan kosong mengenai bagian dada sebelah kiri dan kanan, serta bagian belakang dipukul dengan tangan kosong berulang kali oleh Terdakwa.

Ika Musriati juga disiram air panas sebanyak setengah panci ke arah dada kanannya hingga korban mengalami luka bekas terbakar. Perbuatan tersebut dipicu karena pekerjaan pekerjaan yang diperintahkan Terdakwa dianggap tidak benar.

Hal itu berulang pada Oktober 2019 dengan tangan kosong korban diduga dipikul di bagian wajah kanannya. Ia juga diminumi air panas secara paksa dengan rambut ditarik ke belakang. Tak hanya itu, air panas di gelas di sendok lalu dimasukkan ke mulut korban hingga habis.

Disebutkan jaksa di dakwaannya, korban juga disuruh makan cabe setan hingga sebanyak 20 biji. Pada Nopember 2019, korban diminumi air panas hampir tiap hari Terdakwa hingga sakit tenggorokannya.

Pada tanggal 23 Nopember 2019 sekira pukul 05.00 Wib, karena putus asa tidak bisa menghubungi keluarganya, ia mengambil handphone milik anak Terdakwa yang masih balita. Maksudnya menghubungi keluarga korban dan pergi keluar rumah majikannya dengan cara keluar melalui pintu teralis bagian atap belakang.

Setelah korban melompat turun korban bersembunyi di sebuah rumah kosong di belakang rumah majikannya. Akan tetapi sekira pukul 07.00 Wib, Stevan Pranoto menemukan dan membawanya masuk lagi. Ia mengatakan, korban tidak akan disiksa lagi.

Hari berikutnya, sekira pukul 22.00 Wib korban disuruh Terdakwa Rostin tidur di luar rumah. Padahal saat itu kondisi hujan. Itu karena ia dituduh cemberut saat melakukan pekerjaannya.

Korban tidur di lantai di rumah kosong samping rumah Terdakwa hingga akhirnya sekira pukul 23.45 Wib dibangunkan Security Perumahan Graha Padma, Eko Purwanto Bin Taslam dan Yusuf Istanto Bin Ismanuriyanto. Ika dibawa ke pos induk satpam Perumahan Graha Padma.

Ika lalu dikembalikan lagi kepada Terdakwa selaku majikannya sekira pukul 01.00 wib dan diterima Stevan Pranoto.

Disiksa

Pada 26 Nopember 2019 kekerasan diduga kembali dialami Ika. Terdakwa disebutkan menyiram air panas ke arah kaki kiri korban saat berada di dapur dan di kamar mandi. Korban juga disemprot dengan shower ke arah hidung selama 100 hitungan dengan kondisi tangan dan kaki terikat tali raffia.

Di kondisi itu, disebutkan jaksa, Ika ditendang dan diseret lalu dipukul dengan tangan kosong. Hal ini dipicu perbuatan korban yang menurut Terdakwa tidak sesuai dengan perintah Terdakwa untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

Sejak itu, hampir setiap hari korban diduga disiksa. Disiram air panas, dipukul dan ditendang. Dipaksa berdiri berjam-jam lamanya tanpa sehelai pakaian. Dalam kondisi itu, ia disuruh mengambil galon di luar rumah untuk dibawa masuk. Korban disuruh tidur tanpa baju di lantai.

Pada 1 Desember 2019 malam, saat korban melakukan kesalahan, diterangkan jaksa di dakwaannya, ia disuruh melukai diri sendiri dengan menggunakan pisau cutter agar disayatkan pada lengan tangan kiri bagian nadinya. Rostin berkata “coba sayat tanganmu pakai cutter, kamu mati gak!”. Usai korban mengalami luka mengeluarkan darah Terdakwa berkata “kok rak mati-mati to!”, sebut jaksa di dakwaan.

Puncaknya, korban disuruh memasukkan api ke dalam mulut. Korban diminta menggerakkan mulutnya seolah-olah memakan api. “Hore, ada pertunjukkan jaran eblek!”, kata Terdakwa Rostin.

Setelah itu korban disuruh membersihkan darahnya di lantai hingga selesai pagi dini hari dan tidur di atas ember plastik ukuran sedang selama semalam sambil telanjang.

Kasus terungkap, ketika pada tanggal 21 Desember 2019 sore, korban diserahkan kepada petugas Polsek Semarang Barat oleh Stevan Pranoto (suami Terdakwa) dengan tuduhan mencuri handphone.

Petugas Polsek Semarang Barat yang menerima laporan tersebut merasa curiga dengan kondisi korban, sehingga menghubungi keluarga korban dan merujuk korban ke RS Bhayangkara untuk dilakukan Visum Et Repertum.

Hasil visum pada tanggal 14 April 2019 oleh Dr. Novarani dengan hasil luka parah pada korban. Tim Dokter RS Bhayangkara yang menangani korban, merujuknya ke RS KRT Wongsonegoro untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dikarenakan ada gangguan pita suara yang menyebabkan suara korban menjadi serak (80-90% hilang).

(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *