Penyuap Bupati Kudus M Tamzil Dituntut 3 Tahun Penjara. Bantah Menyuap, Seret Uka Wisnu Sejati

oleh -177 views

Semarang – Terdakwa perkara dugaan suap untuk Bupati Kudus nonaktif, M Tamzil terkait pengisian jabatan di lingkungan Pemkab Kudus, Akhmad Shofian mengaku tak niat menyuap.

Mantan Plt Sekretaris Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus itu menyebut, inisiatif suap berasal dari ajudan bupati,Uka Wisnu Sejati.

Menurut Shofian, anggota Polres Kudus itu aktif meminta uang bersama Agoes Soeranto alias Agus Kroto. Ia menegaskan, tidak ada niat jahat memberikan sejumlah uang kepada Bupati Kudus.

“Inisiatif permintaan uang berasal dari saksi Uka Wisnu Sejati dan Agoes Soeranto,” kata Akhmad Shopian dalam pledoi atau pembelaanya yang disampaikan pada sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (2/12/2019).

Agoes Soeranto dan Uka Wisnu Sejati saat diperiksa di pengadilan.

Terdakwa menyebut, adanya pemufakatan jahat antara Agoes Soeranto dan Uka Wisnu Sejati untuk mendapatkan uang darinya.

Atas pemberian uang olehnya, Shopian menyebut tidak sampai ke M Tamzil, Bupati Kudus. Perbuatannya, dirasanya tidak merugikan keuangan negara.

Menurutnya, ia dan isteri sudah memiliki kompetensi untuk menduduki jabatan lebih tinggi, baik berdasarkan catatan adminitrasi kantor maupun masa kerja.

“Tidak ada perbuatan atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban Bupati Kudus,” katanya.

M Tamzil, Bupati Kudus nonaktif

Jaksa Tuntut 3 Tahun Penjara

Berdasarkan uraian analisa yuridisnya, Penuntut Umum telah mengajukan Surat Tuntutannya yang dibacakan dan diserahkan dalam persidangan pada Rabu, tanggal 20 November 2019.

Tim JPU terdiri Haerudin, Eva Yustisiana, H Moh. Helmi Syarif, Joko Hermawan, Putra Iskandar dan Mufti Nur Irawan dalam surat tuntutannya berkesimpulan terdakwa Akhmad Shofian terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan alternatif Kesatu melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

“Menjatuhkan pidana oleh karenanya terhadap Terdakwa Akhmad Shofian dengan pidana penjara selama 3 tahun dan pidana denda sebesar Rp150 juta rupiah dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan,” sebut JPU.

Menetapkan lamanya penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana penjara yang dijatuhkan. Memerintahkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan.

Tuntutan dipertimbangkan hal yang memberatkan. Perbuatan Terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi.

Hal meringankan. Terdakwa mengakui terus terang atas perbuatannya. Terdakwa merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. Terdakwa belum pernah dihukum.

Suap diduga dilakukan Akhmad Sofhian kepada bupati untuk pengisian jabatan dirinya dan istrinya di Pemkab Kudus.

Suap sebesar Rp 750 juta diberikan secara bertahap sebanyak tiga kali setelah Tamzil dilantik pada September 2018.

“Memberikan uang tunai secara bertahap yang seluruhnya berjumlah Rp 750 juta kepada Muhammad Tamzil melalui Uka Wisnu Sejati dan Agoes Soeranto agar Muhammad Tamzil mengangkat terdakwa dalam jabatan administrator atau eselon III-A dan mengangkat Rini Kartika Hadi Ahmawati dalam jabatan pimpinan tinggi pratama atau eselon II di Kabupaten Kudus,” kata Joko Hermawan.

Uka Wisnu merupakan ajudan bupati, sedangkan Agoes Soeranto adalah staf ahli bupati. Sesuai dakwaan, keduanya turut mendapat bagian uang setiap ada penyerahan uang dari terdakwa. Agoes mendapat Rp 50 juta dan Wisnu mendapat Rp 75 juta.

(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *