Penemuan Stempel Emas Kuno Abad 14 M di Grobogan

oleh -198 views

Grobogan – Benda diduga stempel kuno berbahan emas murni ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Stempel itu diperkirakan peninggalan abad 14-15 Masehi. 
Temuan stempel sebesart 8 gram itu diamankan pemerintah desa setempat di Rumah Fosil Banjarejo bersama temuan lain yang lebih dulu. Penemuan stempel emas itu terdapat areal sawah di Dusun Medang, berdekatan dengan ditemukannya fondasi batu bata kuno beberapa tahun lalu.

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik menjelaskan, stempel ditemukan warga bernama Sutrisno (42), warga Dusun Medang, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Rabu (3/4) lalu. Saat itu, Sutrisno tengah mencari emas di area persawahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. 

“Ditemukan warga Medang (Dusun Medang, Banjarejo) di persawahan di area persawahan,” terang Taufik, Jumat (5/4/2019).

“Sengaja mencari emas di sawah. Pekerjaan sehari-hari selain bertani juga penambang emas kuno,” ujarnya.

Dengan kedalaman tanah yang jadi lokasi penemuan sekitar 1 meter. Benda kuno ini beratnya sekitar 8 gram. Dengan panjang serta tinggi sekitar 2 cm.

Benda mirip stempel di bagian bawah berbentuk persegi empat, dan di dalamnya ada pahatan kotak-kotak kecil berjumlah sekitar 16 kotak. Di bagian tengahnya terdapat satu kotak yang ukurannya lebih besar. Sedangkan di bagian atasnya berbentuk lingkaran dan di bagian kanan dan kiri terdapat ukiran rapi. 

Menurutnya, di wilayah desanya memang sering ditemukan emas kuno diperkirakan peninggalan abad 14-15 M.  Dengan ditemukannya benda berbahan emas itu, kata dia, berarti bertambah pula koleksi benda kuno bahan emas di Banjarejo. “Kalau jumlah sudah gak terhitung,” imbuhnya.

Sawah Ladang Emas di Grobogan

Beragam perhiasan kuno ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Kebanyakan penemuan terjadi saat masa tanam padi. Warga sekitar, khususnya di Dusun Medang tak jarang sengaja mencari emas. Bukan di pertambangan, tapi di sawah.


Mereka mendulang tanah sawahnya mencari emas. Kegiatan seperti ini seperti sudah jadi semacam tradisi menjelang musim tanam padi.

“Menjelang musim tanam padi banyak petani mencari emas di areal sawah. Berakhir saat benih padi mulai ditanam,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Diakuinya, aktivitas tersebut berlangsung rutin bertahun-tahun. Beberapa warga diketahui memang banyak menemukan emas. 

Bukan butiran emas seperti di tambang, tetapi berupa perhiasan. Di antaranya kalung, cincin, anting-anting, gelang dan pernak-pernik emas lainnya.

“Dipikir aneh. Tetapi, nyataan betul terjadi dan bukti serta saksinya cukup banyak,” katanya.

Menurut Taufik, tidak semua wilayah Banjarejo terdapat harta karun emas. Kebanyakan penemuan perhiasan terjadi di areal sawah Dusun Medang. Wilayah itu diyakini tempat berdirinya Kerajaan Medang Kamulan.

“Benda peninggalan kerajaan, terutama perhiasan, hampir semuanya ditemukan di Dusun Medang. Diluar Dusun Medang, biasanya berupa fosil binatang purba atau peralatan rumah tangga masa lalu,” jelasnya.

Jalur Perdagangan 

Peneliti Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta menduga adanya hubungan historis di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan dengan dunia luar. Hal itu terkait penemuan ratusan pecahan tembikar dan keramik dalam kotak ekskavasi dan budaya kemaritiman di Selat Muria yang telah lama hilang. 

Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengatakan, keberadaan Selat Muria  menjadi aktivitas kemaritiman pada zaman sebelum abad ke-17. Seiring waktu, selat itu berubah menjadi daratan akibat endapan lumpur.

Beberapa jurnal di Tiongkok mengungkap, sedikitnya ada dua kerajaan yang sebelumnya memanfaatkan Selat Muria sebagai lalulintas perdagangan. Yakni Kerajaan Holing atau Kalingga dan Kerajaan Shepo.

Dimungkinkan pula, Kerajaan Medang Kamulan juga ikut memanfaatkan selat itu sebagai jalur perdagangan. Keberadaan Sungai Medang di Desa Banjarejo yang menyambung ke Sungai Lusi menjadi indikasinya. 

“Memang ada indikasi ke arah sana. Seperti ditemukannya keping koin dari kerajaan China, tembikar, dan pecahan keramik. Dengan demikian, peradaban klasik di Desa Banjarejo ini sudah berinteraksi dengan dunia luar. Salah satunya dengan berdagang menggunakan moda transportasi sungai,” katanya, akhir Maret lalu.

Menurutnya, keberadaan sungai di masa lampau punya peranan sangat penting. Tidak hanya jadi sumber air untuk memenuhi kehidupan, keberadaan sungai juga menjadi sarana menuju ke pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di kawasan pantai.

“Sebagai contoh adalah Kerajaan Holing yang bisa mengekspor hasil pertanian. Mereka pastinya mendapatkan komoditas itu di pedalaman-pedalaman dan mengirim melalui sungai-sungai menuju pelabuhan,” imbuhnya.

Ratusan Pecahan Benda Masa Lalu

Sedikit demi sedikit, peradaban Desa Banjarejo terungkap. Sejumlah benda peninggalan masa lalu ditemukan tim peneliti Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta saat melakukan penelitian Maret lalu.


Aktifitas penelitian tim di antaranya menggali dua kotak ekskavasi di Dusun Medang. Dari sana didapatkan ratusan benda peninggalan arkeologi cukup padat. Seperti pecahan tembikar, keramik dari masa lalu.

“Ada banyak sekali pecahan gerabah yang sudah ditemukan tim peneliti. Diperkirakan, barang-barang itu usianya sudah ratusan tahun,” ungkap Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Selain di Banjarejo, tim dari Balar juga melakukan kegiatan serupa di Kabupaten Kudus.  Penelitian untuk mengungkap aktivitas kemaritiman pada masa lalu. Terutama yang terkait dengan keberadaan Selat Muria pada sekitaran abad XVI, sebelum menjadi daratan.

9 Gundukan Tanah di Sawah 

Misteri lain di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang belum diungkap adalah keberadaan sembilan gundukan tanah di areal sawah yang berada di Dusun Medang. 

Gundukan tanah di tengah hamparan sawah itu biasa disebut punthuk oleh warga. Luasnya seukuran lapangan tenis.


Lokasi punthuk menyebar. Jarak paling jauh antar punthuk berkisar 1 km. Sedangkan jarak terdekat sekitar 200 meter. Tinggi punthuk berkisar 1 hingga 1,5 meter.

Menurut warga, keberadaan punthuk sudah ada sejak lama. Hingga kini, warga tidak berani meratakan dan membiarkannya saja.

Warga meyakini, punthuk-punthuk itu punya nilai historis dengan sejarah Kerajaan Medang Kamulan yang diyakini pernah berdiri di desanya ribuan tahun lalu. 

“Hingga kini, keberadaan punthuk itu masih dilestarikan karena dinilai jadi bagian sejarah yang ada di sini,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik, awal April lalu.(tim)