Pejabat Badan Peradilan Agama MA Terlibat Suap Hakim PN Semarang

oleh -187 views

Semarang – Seorang pejabat Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (MA) bernama Fauzan, disebut-disebut terlibat pengurusan permohonan praperadilan yang diajukan Achmad Marzuqi, Bupati Jepara nonaktif di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Praperadilan itu kini menjadi perkara atas dugaan suap hakim PN Semarang, Lasito yang memeriksa dan mengadili. Marzuqi didakwa menyuap Lasito Rp 700 juta.

Keterlibatan Fauzan diungkapkan Purwono Edi Santosa, mantan Ketua PN Semarang pada sidang pemeriksaan perkara terdakwa Achmad Marzuqi dan Lasito di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (16/7/2019).

Purwono mengungkapkan, kenal Marzuqi sekitar 2 minggu usai ia menjabat Ketua PN Semarang. Ia mengaku dilantik sekira 11 Agustus 2017.

“Saya kedatangan tamu dari Jakarta. Setahu saya bernama Palupi, perempuan. Ada tamu dari MA, Dirjen Badilum MA bernama Fauzan. Saya tidak kenal. Tapi saya minta masuk. Fauzan mengatakan, ingin mengenalkan Achmad Marzuqi yang sama-sama dari Jepara. Dia Bupati Jepara,” kata dia di persidangan.

Saksi Purwono mengaku tak menolak dan keberatan atas kehadiran tamunya itu. Menurutnya, di awal ia menjabat, banyak pejabat Muspida yang ingin berkenalan dengannya.

“Sekitar 15 menit di ruangan saya. Kedua orang (Fauzan dan Achmad Marzuqi) cerita tentang kasus Banpol PPP Jepara. Akhir cerita Achmad Marzuqi jadi tersangkanya. Mereka akan mengajukan praperadilan. Sebagai ketua pengadilan dan tidak tahu persoalannya, ya silahkan saja. Mereka ngomong, saya banyak mendengar saja. Usai itu, mereka pamit. Keluar dan selesai. Itu perkenalan saya,” jelas dia.

Sesuai dakwaan, pertemuan Marzuqi dengan Purwono itu dalam rangka konsultasi praperadilannya. Usai pertemuan itu, atas praperadilan yang diajukan Marzuqi, Purwono menunjuk Lasito sebagai hakimnya. Kepada Lasito, Purwono minta agar dibantu.

“Purwono Edi Santosa juga menyampaikan kepada Terdakwa (Lasito) bahwa permohonan tersebut adalah permohonan praperadilan dari Bupati Jepara. Serta meminta Terdakwa (Lasito) untuk membantunya jika memungkinkan, ” ungkap jaksa di surat dakwaannya.

Namun keterangan itu dibantah Purwono. Ia mengaku hanya menunjuk Lasito sebagai hakim dan tak pernah meminta agar dibantu.

Purwono mengaku hanya sekali itu bertemu Achmad Marzuqi. Ia mengaku tahu praperadilan Marzuqi diajukan pada 2 Oktober saat ajudannya menyerahkan berkasnya.

“Ajudan masuk dengan bagian pidana. Berkas banyak. Antara lain praperadilan atasnama Achmad Marzuqi. Sebagai ketua berwenang menunjuk hakim. Saya tunjuk Lasito sebagai hakimnya.
Pertimbangan Lasito, karena gilirannya memeriksa. Profesionalitas dan mampu. Kebetulan Lasito gilirannya ya tunjuk,” kata Purwono mengaku kenal Lasito beberapa tahun sebelumnya karena satu angkatan sebagai hakim.

“Satu angkatan 5. Kenal satu angkatan. Tapi kenal betul saat di PN Semarang. Usai jadi Ketua PN Kupang. Saya cari siapa angkatan saya. Ada Andi Astara, Lasito,” katanya.

Purwono mengaku sejak penunjukkan itu, ia tak mengintervensi perkara yang diperiksa Lasito.

“Tidak pernah ada orang yang datang terkait perkara. Baik Lasito atau siapa saja. Begitu ditunjuk, itu kewenangan tehnis yudisial hakim. Ketua pengadilan tinggi bahkan ketua MA tidak bisa intervensi. Perkara ada ribuan. Tidak pernah intervensi perkara,” katanya membantah.(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *