Pabrik Miras di Kudus ini Berkedok Produksi Kecap dan Gudang Pupuk

oleh -97 views

KudusPolres Kudus melalui Satuan Reskrim membongkar dua pabrik minuman keras (miras) di dua lokasi berbeda dalam waktu kurang dari satu pekan.

Masing-masing pabrik mengelabuhi warga dengan mengaku sebagai pabrik kecap dan pabrik pupuk.

Pabrik miras pertama yang diungkap Kamis (29/11/2018) di Jalan Kudus-Pati turut Desa Tenggeles RT 4 RW V, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Di sana, pabrik bermodus sebagai pabrik kecap. Polisi mengamankan Masiful Huda, 39 beserta sejumlah barang bukti.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning melalui Kasat Reskrim AKP Rismanto saat gelar perkara, Senin (3/12/2018) menjelaskan, pabrik memproduksi miras jenis arak putih.

Barang bukti yang berhasil diamankan dua drum yang digunakan untuk fermentasi dengan kapasitas 150 liter. Sebanyak 30 drum belum terpakai serta dua gas elpiji ukuran 12 kilogram.

“Ada juga tungku masak, empat dus dengan kapasitas 12 botol arak putih, empat jerigen isi full 25 liter arak putih, serta alat penguji alkohol,” jelasnya.

Masiful Huda mengaku, sudah beroperasi selama dua bulan. Dirinya izin kontrak ruko yang digunakan produksi miras sebagai pabrik kecap agar warga tak curiga.

Dalam satu hari dia mampu menghasilkan 7 kardus arak dengan isi perkardus 12 botol.

“Saya jual di Kudus, Jepara dan daerah sekitar,” paparnya.

Sementara di lokasi kedua, pabrik miras berkedok gudang pupuk digerebek di sebuah rumah kontrakan Dukuh Gedangsewu, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae Kudus. Penggerebekan dilakukan Minggu (2/12/2018).

Diamankan pelaku bernama Iman Syafii, 51 beserta barang bukti, di antaranya 10 botol arak putih, sekardus isi tutup botol, lima drum ukuran 100 liter yang dua di antaranya berisi miras, satu karung ragi.

Tiga tabung elpiji ukuran 13 kilogram, alat penguji alkohol, empat pipa tabung yang digunakan untuk penyulingan arak, satu buah dandang penyulingan, satu penampung penyulingan, tiga tungku kompor gas, setengah dus bahan pembuat minuman dan satu unit mobil bak terbuka yang digunakan untuk pendistribusian.

Imam Syafii mengakui, hanya mengelola dan memproduksi miras dari atasannya selaku pemilik pabrik, yakni berinisial JUN.

Dirinya mendapat keahlian meracik dari JUN. Setiap hari mampu menghasilkan 4 kardus arak.

“Sehari dapat upah Rp 75 ribu. Terpaksa karena kebutuhan ekonomi,” akunya.

Kedua pelaku dijerat Pasal 204 ayat 1 KUHP subs Pasal 142 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Kepolisian mengimbau, masyarakat ikut aktif memberantas miras.

Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni dengan melapor ke pihak berwajib apabila ada hal mencurigakan di sekitar tempat tinggal. Apalagi saat ini jelang akhir tahun.edit