Nelayan Tambakrejo Semarang Peringati Hari Nelayan di Muara

oleh -77 views

Upacara Hari Nelayan Nasional yang digelar nelayan Tambakrejo Semarang di Muara Sungai Banjir Kanal Timur.

Semarang – Belasan perahu terlihat mengelilingi sebuah perahu di tengah muara Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Kota Semarang, Selasa (6/4/2021) pagi.

Di perahu yang dikelilingi belasan perahu nelayan Tambakrejo Semarang itu tampak seorang pria bernama Marzuki.

Di tangan Marzuki terdapat sebuah bendera merah putih. Bendera itu sudah dilengkapi dengan galah sebagai tiangnya.

Ia pun lantas menancapkan tiang tersebut ke dalam muara hingga berdiri tegak dan membuat bendera merah putih berkibar diterpa angin.

Selang beberapa saat, alunan lagu Indonesia Raya terdengar merdu mengiringi prosesi pengibaran bendera itu.

Para nelayan yang hadir pun langsung memberikan penghormatan terhadap bendera merah putih tersebut.

Pengibaran bendera itu merupakan bagian dari upacara peringatan Hari Nelayan Nasional yang digelar nelayan Kampung Tambakrejo, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Upacara kali ini memang digelar di tengah muara yang menjadi titik pertemuan antara Sungai Banjir Kanal Timur dengan Laut Jawa.

“Semoga di Hari Nelayan Nasional ini semua nelayan mampu hidup merdeka di laut,” ujar Ketua nelayan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Armada Laut 2, Dani Rujito, kepada wartawan seusai upacara.

Dani mengaku harapan itu memang sederhana. Meski demikian, asa tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar ingin diwujudkan para para nelayan, khususnya di wilayah Tambakrejo.

Apalagi mereka mengalami berbagai kejadian yang kurang menyenangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Kejadian itu mulai dari penggusuran tempat tinggal hingga menghadapi cuaca ekstrem di tengah pandemi saat ini.

“Kami juga ingin sejahtera di laut. Kami berharap dukungan pemerintah maupun lembaga terkait lainnya,” ujar Dani.
Mata Pencarian

Dani menyebutkan di Tambakrejo saat ini ada sekitar 80 orang yang mengandalkan mata pencarian sebagai nelayan Tambakrejo Semarang.

Dari jumlah sebanyak itu, 47 nelayan di antaranya memiliki perahu, sedangkan sisanya tidak berperahu.
“Para nelayan saat ini jauh dari kata sejahtera. Kami berupaya untuk memikirkan anggota bagaimana caranya meningkatkan perekonomian,” tuturnya.

Dani menambahkan sejauh ini ada ada tiga KUB yang memfasilitasi nelayan untuk meningkatkan perekonomian dengan berternak lobster, kerang, dan lain-lain.

Usaha itu diharapkan mampu menjadi penopang kebutuhan nelayan saat cuaca ekstrem hingga tak bisa mencari ikan di laut.

Sementara itu, nelayan lainnya, Ahmad Aksis, menyatakan Hari Nelayan Nasional tahun ini memang terasa spesial bagi nelayan Tambakrejo.

Hal itu karena mereka baru saja menempati rumah baru yang disediakan pemerintah pasca-penggusuran beberapa waktu lalu.

Tak heran jika para nelayan memperingati Hari Nelayan Nasional itu dengan penuh semarak melalui berbagai kegiatan seperti teater, pasar kuliner bahari, bersih pantai, hingga menanam mangrove.

“Kami juga sedang menata wisata air dan wisata mangrove. Itu bagian dari kami agar hidup sejahtera,” ujar Aksis.

Sumber Solopos

Tinggalkan Balasan