Mantan Dirut PD BPR Bank Salatiga Divonis 6 Tahun Penjara, UP Dibebankan Ke Orang Lain

oleh -367 views
Muhammad Habib Shaleh saat sidang.

Semarang – Terdakwa perkara dugaan korupsi, pembobolan PD BPR Bank Salatiga, Muhammad Habib Shaleh (49) divonis pidana enam tahun penjara pada sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (29/5/2019).
Putusan dijatuhkan majelis hakim terdiri Andi Astara (ketua), Kalimatul Jumro, Edy Sepjengkaria (anggota). Terdakwa Habib dinilai terbukti bersalah korupsi.

Selain pidana badan 6 tahun penjara, terdakwa juga dipidana denda Rp 300 juta subsidair dua bulan kurungan.

“Menetapkan terdakwa tetap ditahan. Menetapkan lamanya masa penangkapannyabdikurangkan dari pidana yang dijatuhkan,” jelas hakim Andi Astara.

Dalam putusannya majelis hakim juga tegas mengembalikan sejumlah barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk penanganan perkara lain. “Barang bukti dari Puji Astuti dikembalikan ke penuntut umum untuk perkara lain,” kata hakim.

Vonis dipertimbangkan hal memberatkan, sifat korupsi sebagai extra ordinary crime. Perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Hal meringankan, terdawa masih memiliki tangungan keluarga dan belum pernah dipidana.

Vonis Lebih Ringan

Vonis majelis itu diketahui lebih ringan dari tuntutan JPU dengan pidana 8 tahun penjara serta denda Rp 500 juta. Terdakwa juga dituntut dibebani membayar uang pengganti sebesar Rp 12.508.233.563 subsidair 4 tahun penjara pada sidang, Selasa (7/5/2019) lalu.

Habib dinilai majelis hakim terbukti bersalah korupsi sesuai dengan Pasal 3 jo pasal 18 UU no 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah  dengan UU 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sesuai dakwaan subsidair.

Sesuai pemeriksaan 31 saksi fakta, dua ahli dan keterangan terdakwa M Habib, terdakwa dinilai memenuhi semua unsur dakwaan. Dalam unsur menguntungkan diri sendiri dan orang lain, atau koorporasi, hakim menyatakan jaksa tak mampu membuktikan terdakwa menikmati keutungan aliran uang.

Sesuai fakta sidang, korupsi terjadi atas selisih saldo sejak 2007 silam. Mei 2008, Sunarti selaku Satuan Pengawas Intern (SPI) atau saat ini Pejabat Eksekutif Audit Internal (PEAI) menemukan selisih saldo. Selisih saldo tabungan nasabah pasar yang digunakan kepentingan pribadi pegawai bank.

Mereka Joko Triono (alm), Maskasno, Bambang Sanyoto dan Joko Triono (alm). Atas temuan itu, Sunarti melaporkan kepada M Habib Shaleh dan kemudian digelar rapat membahas mengatasi selisih itu. Rapat dihadiri Habib Saleh, Triandari Retnoadi (direktur saat itu), Sunarti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *