Korupsi Mading Kendal. Diduga Hanya Pinjam Bendera, Rekanan Tak Bisa Jelaskan Sumber Rp 4,4 Miliar

oleh -90 views

Semarang – Lukman Hidayat, pemilik CV Karya Bangun Sejati (KBS) mengaku, pasif atas keikutsertaan perusahaannya dalam lelang proyek E Mading. CV KBS diduga hanya dipinjam benderanya saja.

Lukman mengaku mendaftar lelang usai membuka internet, kemudian meminta Devi, pekerja PT Bumi Parahayang mengurusnya.

“Saya serahkan ke Devi semuanya. Surat penawaran dia buat. Saya hanya tanda tangan. Lalu muncul pengumuman pemenang,” akunya saat diperiksa bersama Muryono, mantan Kadisdik selaku Pengguna Anggaran (PA) atas terdakwa Agung Markiyanto sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom), di Pengadilan Tipikor Semarang, 13 Mei lalu.

Lukman mengaku, tak terlibat evalusai dan klarifikasi Pokja 5. Bahkan di persidangan terungkap, Lukman tak paham mekanisme lelang dan jenis evaluasi.

“Semua lewat internet sampai pengumuman pemenang. Devi yang datang mengurus ke Kendal. Evaluasi surat penawaran, evaluasi spesifikasi,” katanya mengukang-ulang dan terkesan gelageban menjawab, hingga membuat peserta sidang riuh kaget.

Ketua majelis hakim Ari Widodo yang juga curiga Lukman hanya dipinjam bendera itu mencercarnya.

“Sebetulnya kamu ini pengusaha sering lelang atau tidak. Evaluasi itu ada dua, tehnis dan nontehnsi. Evaluasi saja saudara tidak tahu,” kata hakim yang dijawab Lukman lupa.

Tak hanya ketidakpahamannya soal prosedur lelang, Lukman yang menjadi penyedia pengadaan E Mading senilai Rp 5,8 miliar itu juga tak tahu rincian barang apa saja yang diadakannya.

“Pengadaan. Frame di dalamnya. Saya tidak mengecek. Saya lupa lagi,” kata Lukman terbata-bata.

Ia mengakui jika seluruh barang E Mading yang seharusnya dikerjakannya itu semua disediakan PT Bumi Parahayang.

“Saya tidak pernah melihat perakitan awal. Terserah Devi itu. Ada di vendor PT Bumi parahayang. Semua dipasrahkan Devi baru dilaporkan ke saya. Laporannya beres sudah dikerjakan dan tinggal dikirim. Pengiriman langsung dari vendor,” kata Lukman mengakui tak paham tehnis barang dan mempercayakannya ke vendor.

Fakta jika CV KBS milik Lukman Hidayat yang hanya dipinjam bendera sendiri semakin terungkap, ketika ia tak bisa menjelaskan asal uang Rp 4,4 miliar itu. Lukman tak bisa meyakinkan jika uang itu dari pribadinya.

“Soal pengembalian. Itu bantuan dari keluarga. Itu dari saya. Pengembalian lewat pengacara saya,Winarno Sejati. Dia datang ke keluarga saya,” katanya berdalih dan terkesan tak bisa menjelaskan sumber dan asal perolehannya.

Hakim anggota Sastra Rasa terus mengejar keterangan itu. “Kami mau tahu sumber uang itu darimana. Saudara kan di dalam (tahanan). Darimana uang itu,”kata hakim.

“Jujur saja. Jangan tele tele. Menyelamatkan orang. Ini persidangan. Yang meringankan itu saudara sendiri. Jangan bertele tele. Apakah saudara diancam. Buka saja. Kalau kamu mau tanggung sendiri ya silahkan. Darimana uang itu ? Jangan-janhan uang itu dari negara. Korupsi yang lain juga,” tegas hakim Sastra di hadapan Lukman yang diam tak bisa menjelaskan.

Terungkap di persidangan, atas pengadaan E Mading untuk 30 SMP di Kendal sebesar Rp 5,8 miliar itu, Lukman hanya terlibat pada tiga hal. Tanda tangan kontrak, pengajuan pembayaran dan menerima pembayaran.

Lukman mengaku kenal Bambang, PT Bumi Parahayang selaku pendukungnya di pengadaan E Mading lewat Devi. “Saya beli barang dari dia,” ujar dia.

Atas pembayaran yang diterimanya, Lukman mengaku menerima keuntungan 2 persen atas diskon yang diberikan untuknya.

“Usai dibayar, yang saya ambil cash Rp 1,2 miliar bersama Ryan dari pihak vendor. Kami cairkan Rp 5,2 miliar. Saya ambil Rp 1,2 miliar dan sisanya Rp 4,5555 diambil Ryan,” akunya.far