Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi Terima Rp 850 Juta Hasil Titipan Proyek

oleh -352 views
Rukma Setyabudi

Semarang – Fakta adanya dugaan suap terkait pengurusan anggaran untuk Kabupaten Kebumen terhadap Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi kembali muncul. Pada sidang pemeriksaan perkara money laundry PT Putra Ramadhan (Tradha) milik mantan Bupati Yahya Fuad di Pengadilan Tipikor Semarang, 26 Juni lalu hal itu terungkap lagi.

Sejumlah saksi diperiksa, yakni Moch Yahya Fuad (Mantan Bupati Kebumen), Adi Pandoyo (mantan Sekda Kebumen), Khayub M Lutfi (pengusaha). Ketiganya berstatus terpidana dalam perkara terkait.

Selain mereka turut diperiksa, Tularno Nugroho (42), Komisaris PT Lisna Jaya Utama, Hendi Aliansya (40), Direktur PT Mahagra Adhi dan Direktur CV Panji Karya Mandiri, Nawang Priambodo, Direktur PT Cipta Graha Birawa, Eko Yongtono (50), Komisaris PT Sarana Multi Usaha.

Saksi Khayub mengungkapkan, dirinya dikontak Rukma yang menyampaikan perihal adanya titipan anggaran Rp 32 miliar untuk Kebumen dari partai. Rukma awalnya meminta fee 5 sampai persen, namun akhirnya hanya diberi Rp 850 juta.

“Saya dihubungi. Ini ada titipan. Disampaikan Pak Budi Rukma, Ketua DPRD Jateng, ada titipan untuk operasional partai,” kata Khayub di persidangan.

“Ada feenya. Rp 850 juta dapatnya fee. Awalnya minta fee 5 sampai 6 persen. Harusnya Rp 1.5 miliar jika 5 persen,” kata dia.

Khayub, pemilik PT Karya Adi Kencana, PT Selo Kencono (diambil alih anaknya di Temanggung), CV Wahyu Putra (dikelola adik iparnya), termasuk PT Serayu Putra Persada di Cilacap, merupakan kontraktor besar di Kebumen. Pada persidangan perkara Adi Pandoyo, keterangan itu sudah terungkap.

“Pada awal Tahun 2016, saya ditelepon Rukma Setyabudi, Ketua DPRD Jawa Tengah menyampaikan bahwa di Kebumen ada anggaran yang merupakan titipan PDIP untuk operasional partai sekitar Rp 40 milyar. Saya disuruh mengurusi untuk meminta uang feenya. Saya mengurusi uang tersebut sebesar Rp 800juta, dan saya serahkan kepada orang suruhannya di lantai dasar parkiran Hotel Gumaya,” ungkap Khayub saat itu.

Sementara sejumlah saksi lain, para kontraktor mengakui jika benderanya hanya dipinjam PT Tradha untuk melaksanakan pekerjaan di Kabupaten Kebumen pada 2016. Dalam kerja sama itu, kata dia, disepakati fee sebesar 1 persen dari nilai proyek. Saksi Yahya Fuad sendiri mengakui praktik pinjam bendera yang dilakukan perusahaannya.(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *