Kecelakaan di Tol Jateng Naik. Lelah dan Lalai jadi Faktor Penyebabnya

oleh -57 views

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol M. Rudy Syafirudin

Semarang – Kecelakaan lalu lintas di jalan tol di Jawa Tengah naik. Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol M. Rudy Syafirudin mengatakan, tren kenaikan terjadi sekitar 20 an persen.

” Data lakalantas pada Juli-Agustus 2020 trennya naik. Juli terjadi 1.643 kasus, Agustus 1.972. Trennya naik 20 an persen,” kata Dirlantas kepada wartawan di Mapolda Jateng, Kamis (10/9/2020).

Dikatakannya, kecelakaan di tol menduduki kontribuai terbanyak.

“Minggu ini sudah ada 3 kasus kecelakaan di tol dan korbannya meninggal semua,” kata M Rudy.

“Kecelakaan terjadi akibat faktor kelelahan dan kelalaian,” kata dia.

Rudy mengingatkan kepada pengemudi kendaraan untuk memperhatikan dan mengindahkan rambu-rambu lalu lintas. Menurutnya kelalaian dan ketidakpatuhan terhadap rambu-rambu sebagai simbol tanda peringatan bahaya kerap diabaikan.

“Jalur-jalur audah dipasang marka, bender-bender. Tapi kembali ke pengemudi. Karena jarang peduli dengan rambu-rambu,” kata dia.

“(Korban) kebanyakan pada usia produktif. Karena pada usia tua, lebih hati-hati dibanding usia produktif,” lanjutnya.

“Sosialisasi terus dilakukan dan rambu-rambu-rambu juga telah banyak dipasang dengan sekreatif mungkin,” kata dia.

Dirlantas juga mengingatkan kepada pengendara kendaraan mematuhi aturan batas normal dalam berkendaraan.

“Normalnya 2 jam sekali pengemudi harua istirahat. Diluar 2 jam, istirahat 1 jam behenti. Itu aturan dunia. Jika lebih 2 jam kendara harus berhenti 1 jam. Aturan itu jika dipakai meminimalisir terjadinya laka,” jelas dia.

“Termasuk kelayakan kendaraan. Usia pakai ban hanya 5 tahun. Jika lebihi itu ban akan keras dan hancur. Jika ban belakang gembes msih bisa dikendalikan. Tapi jika ban depan pecah tidak bisa dikendalikan,” jelas dia.

“Termasuk posisi tangan saat mengemudi. Tangan kiri di posisi jam 10, sementara tangan kanan di posisi jam 2. Karena jika terjadi oleng tangan bisa langsung menahan. Tapi banyak yang lalai mengemudikan dengan satu tangan,” ingatnya.

M Rudy mengakui keberadaan rambu tanda lalu lintas di jalur tol belum maksimal.

“Hasil survei kemarin banyak rambu tak terpasang. Lampu keda kedip tak terpesang. Peredam kejut juga tak terpasang. Dibutuhkan rambu secara nyata yang mebmeri efek ke mata. Saat kantuk tahu ada rambu sehingga menepi saat lelah. Banyak rambu hanya digunakan simbol,” kata dia mengakui akan berkordinasi dengan pihak Jasa Marga terkait hal itu.

(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *