Kasus Penganiayaan Perawat Klinik Pratama Dwipuspita Semarang Mulai Disidangkan

oleh -80 views

Ilustrasi

Semarang – Kasus penganiayaan di Klinik Pratama Dwipuspita I No. 258 Jalan MR. Sultan Syahrir Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang mulai disidangkan.

Budi Cahyono bin Maryono (43), warga Kp. Penjaringan Rt. 07/ I Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur duduk sebagai terdakwanya.

“Sesuai jadwal, mulai disidangkan, Senin, 6 Juli 2020. Perkara masuk pengadilan 29 Juni 2020 dalam klasifikasi penganiayaan. Perkara teregister nomor 384/Pid.B/2020/PN Smg,” kata Noerma Soejatiningsih, Panmud Pidana pada PN Semarang.

Sesuai surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum Kejari Kota Semarang, dugaan penganiyaan terjadi Kamis 9 April 2020 sekita pukul 09.00 WIB di Klinik Pratama Dwipuspita I No. 258 Jalan MR. Sultan Syahrir Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang.

Beraaal, terdakwa Budi berada di tempat pendaftaran klinik, akan mengobatkan anaknya, Adi Jaya Wibowo (12), yang batuk dan panas.

Budi datang tidak mempergunakan masker. Karena situasi masih marak virus corona sesuai aturan klinik, mereka tidak melayani pasien yang tidak memakai masker.

Di depan pintu masuk juga telah terpasang pengumuman. “MOHON MAAF KAMI TIDAK MELAYANI PASIEN YANG TIDAK MENGGUNAKAN MASKER? PENUTUP HIDUNG DAN MULUT”.

Melihat terdakwa tidak memakai masker, perawat Hidayatul Munawaroh Amd Kep yang bertugas membantu admin Ulil Albib menegurnya.

Ia menyarankan terdakwa pulang mengambil maske. Namun terdakwa tidak mau dan marah-marah. Ia memukul kepala Hidayatul sekali dengan tangan kosong.

Budi juga mengancam sengan kata-kata kasar. “AWAS YA NEK KETEMU NANG DALAN TAK ENTEKI KOWE TAK PENGGAL KEPALAMU , TAK TEKEK GULUMU “ ( AWAS YA KALAU KETEMU DI JALAN TAK HABISI KAMU TAK PENGGAL KEPALAMU TAK CEKIK LEHERMU),” kata dia.

Dr Dyah Windowatj Rahayoeningsih yang di lokasi menghampiri dan menegur karena tidak mempergunakan masker.

” PAK NJENENGAN KAN TAHU KALAU YANG PERIKSA DISINI HARUS MENGGUNAKAN MASKER, APALAGI SEKARANG PRESIDEN AJA SUDAH MENGHIMBAU, GUBERNUR AJA MENGHIMBAU APALAGI DI KLINIK. KALAU MEMANG NJENENGAN TIDAK MAU MEMATUHI ATURAN SILAHKAN MONGGO PINDAH KE KLINIK LAIN,” kata dia.

Kepada dr Dyah dan korban Hidayatul, Budi kembali mengancam. “AWAS YA NEK KETEMU NENG NDALAN TAK ENTEKI KOWE, TAK PENGGAL KEPALAMU, TAK TEKEK GULUMU” kata Budi mengancam.

“JANGAN BUAT KERIBUTAN NANTI SAYA BISA LAPOR POLISI,” balas dr Dyah.

Akibat pemukulan itu, Hidayatul merasa pusing kepala. Terdapat lebam kecil pada kulit kepala ubun-ubun sekitar 2 diameter dua centimeter. Hal itu hasil Visum Et Repertum Nomor : 377/RSPWDC/PM/RM/IV/2020 tanggal 17 April 2020 dr Fannia Debora.

Hidayatul juga merasa takut, trauma dan cemas dan malu karena kejadian di tempat keramaian dan banyak pasien yang melihat.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP. Atau kedua, Pasal 351 ayat (1) KUHP,” sebut Zahri Aeniwati, JPU.

(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *