Jorok! Limbah RPH Ambarawa Dibuang ke Sungai

oleh -145 views
Semarang – Warga Kupang Tegal Bulu, Kelurahan Kupang Kidul, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, mengeluhkan pencemaran lingkungan di sungai. Pencemaran lingkungan ini berupa kotoran dari Rumah Potong Hewan (RPH) Ambarawa dialirkan menuju sungai.

RPH Ambarawa sendiri adalah tempat yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda. Salah satu bangunan tersebut tertera tahun 1913. Untuk RPH itu pun dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), namun telah penuh. Untuk itu, kotoran berupa darah dari penyembelihan sapi maupun kotoran mengalir menuju IPAL yang telah penuh tersebut, terus mengalir ke Kali Pentung, persis di belakang bangunan RPH.

Zamrodin Wiji (43), warga Kupang Tegal Bulu RT 08/07, Kupang Kidul, Ambarawa, mengatakan, warga mengeluhkan limbah dari RPH yang dibuang menuju Kali Pentung. Kejadian ini sudah berlangsung sejak lama dan warga telah menyampaikan keluhan tersebut, namun tidak ada responsnya.

“Warga telah mengajukan keluhan ini kepada pengelola RPH, tapi tidak ada responsnya. Bau ini dirasakan warga sejak pagi hingga sore,” katanya saat ditemui di Kali Pentung, Kupang Kidul, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Rabu (29/8/2018).
Jorok! Limbah RPH Ambarawa Dibuang ke SungaiFoto: Eko Susanto/detikcom

Ketua RT 08 Erwin Haryanto mengatakan, di Kali Pentung tersebut terkadang digunakan mandi anak-anak yang merasakan gatal-gatal. Selain itu, ada pencemaran berupa bau.

“Pemandangan di sungai nggak pernah bersih saat beraktivitas tiap harinya. Mayoritas di lingkungan kami mandi, cuci pakaian di sungai. Jadi nggak pernah ada pemandangan yang bisa dilihat enak,” tutur Erwin.

“Kita pernah mengajukan keluhan langsung ke RPH, tapi respons nanti dan nanti, terus kelanjutannya kita tunggu nggak ada. Jadi, mohon maaf sebenarnya kita sudah merasa tidak nyaman udah lama, cuman gimana kita mau mengadu ke mana,” ujar dia.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong mengaku, menerima keluhan dari warga yang disampaikannya dengan disertai tanda tangan seluruh RT di wilayah RW 07.

“Keluhan warga disampaikan ke rumah dengan disertai tanda tangan seluruh RT, satu RW. Mereka menyampaikan keluhan tentang limbah RPH. Sebetulnya kalau melihat yang melakukan ini adalah pemerintah, ini ironis,” katanya.