Hanya 72 Siswa Yang Diizinkan Simulasi Belajar Tatap Muka. Padahal Jumlah Keseluruhan 2.131 Siswa

oleh -28 views
TEMANGGUNG – Tujuh sekolah menengah atas dan kejuruan di Jateng, melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka, Senin (7/9).

Uji coba dilakukan dengan membatasi jumlah jam belajar yang hanya tiga jam dan kuota siswa maksimal 100 orang, dari jumlah total murid. Seperti yang terlihat di SMKN 1 Temanggung.

  Kepala SMKN 1 Temanggung Tri Setya Budi mengatakan, simulasi dilakukan selama dua minggu ke depan. Dari jumlah peserta didik yang mencapai 2.131 siswa, saat simulasi hanya diikuti 72 siswa atau tiga persen yang belajar tatap muka. Sisanya, masih mengikuti pembelajaran daring (online) dari tempat masing-masing.

  “Untuk peserta didik sementara ada 12 siswa kali enam rombel. Sisanya pembelajaran jarak jauh. Kali ini siswa yang mengikuti pelajaran banyak yang praktik. Untuk jam (waktu) belajar, dimulai pukul 08.00-11.00 (WIB),” ujarnya.

  Ia mengatakan, sebelum menyelenggarakan belajar tatap muka, manajemen sekolah telah melakukan pembenahan terhadap fasilitas sekolah. Di antaranya, memberi jarak duduk antarsiswa, membuat jalur khusus, hingga pembentukan pos pantau. Selain itu, pada tahap simulasi, pihaknya meliburkan aktivitas kantin sekolah.

  “Adanya pos pantau ini untuk memantau pergerakan siswa, agar tidak ada yang berkerumun. Adapula pewarnaan jalur khusus pejalan kaki, supaya siswa bisa menjaga jarak, dan mencegah berpapasan dengan yang lain. Selain itu, ada tempat cuci tangan dan hand sanitizer yang disediakan,” paparnya.

  Hal serupa juga terpantau di SMAN 1 Parakan, Temanggung. Dari 921 siswa, hanya sekitar 100 siswa yang hadir pada simulasi pembelajaran tatap muka.   Kepala SMAN 1 Parakan Ratna Herwanti mengatakan, pihaknya telah membuat satgas khusus yang menangani protokol kesehatan. Tugasnya, mengingatkan kepatuhan siswa terkait penerapan masker, jaga jarak, dan cuci tangan.   Siswa SMAN 1 Parakan Lydia Amanda (17) mengaku senang bisa kembali bersekolah, setelah tujuh bulan belajar daring. Murid kelas XII IPS II itu menyebut, sempat kikuk saat pertama kali masuk sekolah dengan penerapan protokol kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *