Gagas Lasem Jadi Kota Fesyen

oleh -17 views
SEMARANG – Kota Lasem di Rembang sejak dulu kondang dengan batik berciri Tionghoa sejak abad 15 masehi. Berkaca dari sejarah itu, Pemprov Jateng berencana menjadikan kabupaten ini sebagai Kota Fesyen.

  Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah Ema Rachmawati menyebut, popularitas Batik Lasem telah mendunia. Bahkan dalam beberapa pameran, produk Lasem yang berciri warna merah darah ayam atau Batik Tiga Negeri, selalu diburu.

  “Namun sayang, selama ini batik Lasem selalu dalam bentuk lembaran. Produk fesyen (pakaian jadi) selalu ditanyakan konsumen, tapi tidak ada. Padahal setiap pameran batik harga 7-8 juta laku. Apalagi dengan batik Lasem yang sudah bagus,” ujarnya, Minggu (22/11).

  Untuk mewujudkan Rembang Kota Fashion, pihaknya kemudian memberikan berbagai pelatihan. Mulai dari mendesain hingga pembuatan pola bagi penjahit.

  Hal itu diakui Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Rembang Ahsanudin. Ia menyebut, proses mewujudkan Rembang Kota Fashion tidaklah mudah. Perlu sinergi antar elemen untuk mewujudkannya.

  “Tahun 2023 paling tidak, setelah kita sepakati grand design untuk mewujudkan cita-cita itu. Kami didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dalam memberikan pelatihan,” paparnya.

  Ia menyebut, beberapa pelatihan digelar untuk mengembangkan motif dan kreatifitas para pekerja batik. Mulai dari desain, latihan pola untuk penjahit hingga pemasaran.

  “Kita garap juga business hub nya adalah koperasi. Kita juga dibantu dari Lembaga Gerak Pemberdayaan,” imbuhnya.

  Ketua Koperasi Batik Lasem Afif Arwani mengatakan, selama ini produk dari kota ini lebih sering dijual lembaran. Namun, bila dijual dalam produk jadi harganya bisa berlipat.

  “Misalnya yang lembaran ada yang harganya Rp 250 ribu, kalau dijual dalam bentuk pakaian bisa jadi Rp 500 ribu. Yang motif tiga negeri harga lembarannya Rp 2 juta, bisa jadi Rp 5 juta atau lebih,” ungkapnya.

  Ia berharap, ikhtiar untuk membuat Rembang sebagai ikon fesyen batik khas Lasem dapat terwujud. Namun, Afif menyadari, hal itu perlu sinergi dari berbagai pihak. (mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *