Dinilai Lalai, Grapari Telkomsel dan BNI Semarang Digugat Pengusaha di Semarang

oleh -149 views

Ilustrasi.

Semarang – Grapari Telkomsel Semarang dan BNI Semarang digugat seorang pengusaha atas pembobolan kartu kredit yang dialaminya. Pihak Telkomsel dan BNI dinilai lalai sehingga menyebabkan pembobolan mudah terjadi.

Akibat pembobolan itu, Penggugat selaku pemegang kartu harus rugi atas tagihan Rp 80 juta lebih dari transaksi yang tak pernah dilakukannya.

Gugatan diajukan Michaella Ignatia (33), warga Jalan Padma Boulevard Utara No. 29, RT.03 RW. 04, KelurahanJrakah, KecamatanTugu, Kota Semarang. Lewatpengacaranya, Boedhyy Koeswharto dan Deddy Soelistijono gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri Semarang.

Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) ditujukan melawan Grapari Telkomsel Pusat cq Grapari Telkomsek Semarang di Jl. Pahlawan No. 10, Kota Semarang. Serta Kantor Pusat PT BNI (Persero) Tbk cq BNI Card Centet Semarang di Jalan MT. Haryono No. 16, Kota Semarang.

“Tanggal 26 Mei 2020 gugatan PMH diajukan. Perkara terdaftar nomor 195/Pdt.G/2020/PN Smg,” ungkap Heru Sungkowo, Panmud Perdata pada PN Semarang, Rabu (10/6/2020).

Informasi di pengadilan menyebutkan, Michaella Ignatia, merupakan pemegang kartu kredit BNI Ferari, BNI Visa Platinum dan BNI Garuda Visa Platinum.

Kasus terungkap, awalnya Michaella Ignatia memakai instagram pada 14 Oktober 2019 membeli iklan perusahannya. Ttapi transaksi dengan kartu kreditnya ditolak. Ia mendapat telepon dari BNI yang menyampaikan kartu diblokir sementara.

Pada 16 Oktober 2019 ia lalu menelepon Call Center BNI. Oleh bank, ia disuruh mengecek billing tagihan Oktober 2019.

Saat mengecek emailnya, “mailto:michaella.tan@gmail.com” michaella.tan@gmail.com ternyata tidak terdapat tagihan. Belakangan ia kaget setelah diberitahu bank, jika email telah berubah menjadi “mailto:herna.setiawati@yahoo.com” herna.setiawati@yahoo.com. Padahal menurut
Michaella ia merasa tidak pernah mengganti alamat emailnya.

Ia dikonfirmasi memiliki tagihan Rp 82.984.375. Penggugat merasa tidak pernah melakukan transaksi sebesar itu.

Hasil konfirmasi, ia ditunjukkan Lembar Penagihan Kartu Kredit BNI yakni tertanggal 10 dan 14 Oktober 2019. Ia mengaku tak mendapai billing tagihan karena alamat email telah berubah.

Tagihan Rp 82 juta itu terjadi atas transaksi belanja online di Lazada, Tokopedia. Michaella Ignatia keberatan karena merasa tak melakukan transaksi itu.

Penggugat mempertanyakan databaaenya yang bocor dan telah disalahgunakan pihak lain. Menurutnya, sumber permasalahan terjadi pada Sim Card nomor HP miliknya.

Terjadi migrasi dari Telkomsel / Simpati ke Kartu Hallo Pasca Bayar. Migrasi dilakukan menggunakan KTP dan aplikasi yang diduga dipalsu.

“Penggugat merasa tidak pernah migrasi kartu,” kata Penggugat dalam dalil gugatannya.

Atas hal itu, Telkomsel dinilai tidak hati-hati dan lalai sehingga terjadi kebocoran data. Menurutnya, Telkomsel seharusnya memproteksi keamanan customer.

Sementara BNI dinilai tidak mengkonfirmasi Penggugat perihal perubahan email dan transaksi mencurigakan yang terjadi. BNI seharusnya mengkonfirmasi pemegang kartu kredit atas transaksi.

(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *