Dalang Korupsi Mading Kendal Agar Diseret Ke Pengadilan

oleh -295 views

Semarang – Penanganan perkara dugaan korupsi Mading Elektronik Disdik Kendal tahun 2016 oleh penyidik dan penuntut umum Kejati Jateng dinilai belum tuntas. Sejumlah pihak yang diajukan ke persidangan sebagai terdakwa, Muryono (mantan Kadisdik), Agung Markiyanto (PPKom) dan Lukman Hidayat (Direktur CV Karya Bangun Sejati) disebut hanya “korban”.

Muryono, “korban” kekuasaan di era pemerintahan Bupati Kendal dr Mirna Annisa. Agung, “korban” mantan gurunya, Joko Supratikno yang memintanya menjadi PPKom meski tak paham. Sementara Lukman Hidayat, diduga “korban” atas pemanfaatan benderanya yang dipinjam.

“Penanganan kasus korupsi harus tuntas ke akar-akarnya. Tidak pandang bulu, siapapun aktor intelektualnya harus diproses hukum sampai ke persidangan,” kata Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman, Jumat (31/5/2019).

Lantas siapa dalang atau aktor intelektual terjadinya penyimpangan, “bancakan” korupsi proyek Mading senilao Rp 5,840 miliar itu ? Ini yang seharusnya diungkap penyidik, penuntut umum kejaksaan dinilai belum tuntas dan menyentuh ke dalangnya.

Sejumlah pihak disebut terlibat dan sebagai aktor intelektual. AKP Muhammad Lutfi Armanza (adik dr Mirna Annisa/ bertugas di Akpol), Rubiyanto (anggota DPRD Kendal Fraksi PKS) disebut-sebut sebagai dalangnya.

“AKP Lutfi dan Rubiyantolah dalangnya,” tegas terdakwa Muryono sebelumnya.

AKP Lutfi diduga lewat kebijakan persetujuan kakaknya “bermain” proyek Mading yang menjadi usulan prioritas tim pengusung bupati Mirna saat Pilkada. Usulan itu diduga berasal dari Rubiyanto.

AKP Lutfi, warga Bandung yang tak pernah dihadirkan paksa jaksa di persidangan itu diduga terlibat perihal pemanfaatan CV KBS, perusahaan Lukman Hidayat yang hanya dipinjam benderanya.

Fakta peminjaman bendera itu terungkap di persidangan pemeriksaan terdakwa Lukman Hidayat.

Fakt itu dikuatkan keterangan Bambang Soebrata bin alm. Sugiana (48), Direktur PT Bumi Parahyangan. Dalam Berita Acara Penyidikanya (BAP), saksi Bambang yang juga tak pernah dihadirkan paksa di persidangan oleh JPU mengungkapkan.

Bambang kenal Lukman tahun 2016 saat dilakukan penandatanganan Surat Perjanjian Penyelesaian Pembayaran atas pekerjaan pengadaan Mading Elektroknik SMP di Disdik Kendal pada 8 Desember 2016.

Diakuinya, terkait proyek Mading awalnya, sekira Oktober 2016 perusahaannya menerima kunjungan rombongan dari Disdik Kendal di kantornya di Ruko Metro Indah Mall Blok D No 52 Jalan Soekarno Hatta Bandung. Kepadanya, rombongan mengaku tengah survei dan akan mengadaan E Mading.

Usai menjelaskan tehnis dan manfaatnya, beberapa minggu kemudian, saksi Bambang mengakui, ada stafnya yang menemui, meminta surat dukungan untuk CV KBS. Permintaan itu disetujuinya.

Usai dinyatakan menang, akhirnya terjadi negosiasi harga antara PT Bumi Parahayang dengan CV KBS. Disepekatai, PT Bumi Parahayang akan memberikan discount 22 persen untuk CV KBS.

Setelah itu digelar tandatangan surat perjanjian penyelesaian pembayaran atas pekerjaan pengadaan majalah dinding elektronik Kendal.

“Di situlah saya bisa bertemu dan kenal saudara Lukman Hidayat SE,” kata Bambang.

Diungkapkan Bambang, CV KBS memesan barang ke PT Bumi Parahayangan dan baru membayarnya kemudian. Harga barang yang disepakati Rp 4.555.207.800 dari total Rp 5.840.010.000 karena CV KBS diberikan discount 22 persen atau sebesar Rp 1.284.802.200.(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *