Bupati Kendal Paksa dan Ancam Anak Buahnya Mundur dari Jabatannya Jika Tak Manut

oleh -115 views
Mirna Annisa yang menjadi saksi dugaan korupsi e Mading Kendal tahun 2016 usai diperiksa di pengadilan.

SEMARANG – Sikap keras dalam pengelolaan pemerintahan Kabupaten Kendal diakui dr Mirna Annisa, Bupati Kendal. Terhadap sejumlah anak buahnya, bupati periode 2016-2021 itu mengakui tegas.

Mirna bahkan mengakui dirinya mengancam anak buahnya agar mundur dari jabatannya jika tak “manut”. Namun ketegasan itu diduga bentuk paksaan. Mirna “memaksa” anak buahnya melakukan sesuatu dengan ancaman.

Hal itu sebagaimana terungkap dalam fakta perisdangan pemeriksaan perkara dugaan korupsi e Mading Kabupaten Kendal tahun 2016 di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (22/4/2019) lalu. Duduk sebagai terdakwanya, Muryono, mantan Kadisdik Kendal (PA), Agung Markiyanto (PPKom) dan Lukman Hidayat Direktur CV Karya Bangun Sejati (rekanan).

Sesuai fakta sidang, Mirna diketahui memaksa Muryono yang kala itu masih menjabat mengerjakan proyek pengadaan e Mading yang kini jadi perkara. Kepada Kadisdik Kendal jika menolak permintan melanjutkan proyek e Mading, Mirna akan mencopotnya.

Jaksa mengungkapkan, sesuai BAP pemeriksaannya, Mirna pernah memanggil dan bertemu sejumlah pejabat di Kendal.

“Apakah saksi pernah memanggil dan menemui Kadisdik bersama Kesbangpol, Plt Inspektur, Kepala BKD dan Kabid BKD dan mengatakan ke Muryono. Saudara Muryono ini serius atau tidak ? Jika saudara tidak bersedia menjalankan proyek e Mading, saudara (Muryono) harus mengundurkam diri dan akan dilakukan pemeriksaan,” kata Endeono Wahyudi, jaksa Kejati Jateng mengungkapkan pada sidang.

Menjawab atas pernyataannya itu, Mirna mengakuinya.

“Itu kalimat saya. Kalau tidak mampu melakukan anggaran silahkan mundur. Waktu itu saya coba kejar pembangunan di Kendal. Itu yang saya lakukan. Terkait satu item-itemnya tidak mungkin,” kata Mirna mengakui ancaman itu

“Hal sekecil apapun saya selalu minta pertimbangan ke Sekda dan inspektorat terkait rekam jejak dinas. Soal pengunduran diri (ancam anak buah mundur) sering saya ucapin,” akunya.

Terkait masalah e Mading yang kemudian menjadi perkara, isteri Kapolres Pekalongan Kota itu mengakui memerintahkan Inspektorat menindaklanjuti.

“E Mading untuk 30 SMP dengan anggaran APBD Perubahan Rp 6 miliar. Usai diklarifikasi sata minta inspektorat dan mengecek dan memantau. Betul jalan tidak. Saya disposisi ke inspektorat agar ditindaklanjuti dan dilapori hasilnya,” jelas Mirna mengaku tak pernah sekalipun mengecek fungsional e Mading kecuali hanya memerintah anak buahnya.

Mirna mengakui kenal dengan Junaedi, Kepsek SDN 1 Surokonto. Terungkap sebelumnya, Junaedi merupakan orang deket keluarga Mirna yang diketahui ikut terlibat survei ke Tasikmalaya meski tak berwenang. Juanedi juga terungkap pernah menerima titipan dan memberikan uang Rp 35 juta dari AKP Lutfi untuk Muryono yang diduga sebagai uang ucapan terima kasih terkait penyelenggaraan e Mading.

“Dia salah satu saudara. Bukan saudara sedarah. Sering ke rumah kakek. Asli Kendal dan biasa ke rumah mamah. Kalau hari raya salah satunya ia datang,” aku Mirna.

Hakim Sininta Y Sibarani yang mengkonfirmasi terkait Mirna yang didatangi Junaedi terkait pembahasan proyek e Mading, saksi membantah.

“Kami tidak ada ikatan darah. Cuma satu lingkungan tinggal beda dusun dengan tempat kakek saya di Kendal. Kalau Hari Raya ketemu bareng-bareng. Saat saya jadi bupati dia juga ucapin selamat dan tidak da omongan apa-apa,” ujar Mirna.far