Bos Produsen Ribuan Pil PCC di Semarang Divonis 7 Tahun Penjara

oleh -94 views
Semarang – Terdakwa pembuatan pil PCC di Jalan Halmahera Semarang, Djoni (37) anak dari Bambang dipidana 7 tahun penjara. Warga Jalan Gajah Barat IV No. 11A RT 03 RW 09 Kelurahan Pandean Lamper, Gayamsari itu dinilai terbukti bersalah, bersama-sama memproduksi atau mengedarkan sedian farmasi tidak memiliki ijin edar.

Melanggar Pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, jo Pasal 55 Ayat (I) ke- 1 KUHPidana sebagaimana dalam dakwaan kesatu. Bersama Ronggo dan 12 anak buahnya (sidang terpisah) pembuatan pil PCC dilakukan.
Agus Suryanto, Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri (PN) Semarang yang menangani perkaranya mengungkapkan, putusan dijatuhkan tanggal 2 Agustus 2018 lalu. Oleh majelis hakim terdiri Antonius Widijantono selaku ketua, Suranto dan Muhamad Yusuf sebagai hakim anggota.
“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Djoni anak dari Bambang dengan pidana 7 tahun dan denda Rp 150 juta dan bila tidak dibayar diganti pidana kurungan 6 bulan,” ungkap Agus mengutip amar putusan majelis hakim pada, Kamis (30/8/2018).
Sebelumnya, jaksa pada Kejati Jateng pada 10 Juli lalu menuntut majelis hakim memidana 12 tahun, denda Rp 250 juta subsidair setahun kurungan.
Dengan sengaja, Djoni dinilai bersalah turut mengedarkan sediaan farmasi berupa Pil Carnophen Zenith pharmaceutical ( ZENITH )  yang tidak memiliki izin edar.
Kasus pembuatan pil PCC juga menyeret 12 orang pekerjanya, yakni Hartoyo (warga Bekasi), Achmad Sutanto (warga Kudus), Ristono alias Tono (Pemalang), Sutrisno (Rembang), Suroso (Rembang), Panuwi (Rembang). Kriswanto alias Kris (Pemalang), Dede Ade Ridwan (Tasikmalaya), Ade Ruslan (Tasikmalaya), Jaenal Abidin (Semarang), Budi Prawoto (Ponorogo), Heri Sasongko (Pacitan), serta Ronggo Sri Anggono alias Ronggo.
Produksi pil PCC dilakukan sejak Juli 2017 sampai 3 Desember 2017.
Diketahui Djoni dan Ronggo sepakat memproduksi pil dengan modal dari Djoni Rp 300 juta. Keduanya menyewa rumah di TKP milik Rossyana Mulyana dengan jangka waktu 24 bulan sejak 1 Desember 2016 sampai 1 Desember 2018 biaya Rp 200 juta.
Ronggo merekrut karyawan yaitu ke-12 tersangka. Dengan peran masing-masing, keduanya mengajari cara meracik pembuatan pil.
Semua pekerjaan termasuk mengemas dilakukan para terdakwa dengan saling membantu. Atas produksi itu, Djoni menjual perkartonnya seharga Rp 21 juta. Pil dijual ke sejumlah pihak ke beberapa daerah di Indonesia.
Para terdakwa sendiri yang tidak mempunyai keahlian di bidang  kefarmasian itu menerima upah antara Rp 3 juta sampai Rp 7 juta.rdi
Kasus pembuatan pil PCC diungkap pada 3 Desember 2017 oleh Polda Jateng dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Petugas menyita sejumlah barang bukti serta ke 12 pekerja.
Dalam penggeledahan di rumah Djoni di Jalan Gajah Timur, petugas menemukan 87 rol alumunium foil,10 tong berisi 100  bungkus pil nova warna kuning @ 1.000 butir, kardus Angioten, karung pil Carnophen zenith pharmaceutical reject, bubuk paracethamol, PVP (Povidon), alkohol 96 persen,  tepung tapioka, SSG (sodium starch glycholate),  Charisol prodol. Kami amankan juga alat produksi seperti penjahit karung, troli, kompresor.
Diakuinya, pihaknya juga mengamankan mobil Evaliad H 999 SD dan Fortuner H 88 FJ. Mesin pengemasan obat, mesin giling, timbangan digital, alat pengeringan, mesin aduk, mesin penyaring dan pres, mesin cetak pil serta lampu tembak.
Disita pula produk pil PCC sebanyak 3 kontainer  @ 160.000 butir atau sebanyak 480.000 butir. Setengah karung besar berisi 10.000 strip @ 10 butir atau 100.000 butir, 8 sak berisi pil  sebanyak 400.000 butir. Sebanyak 25 karton pil @ 20.000 butir x 25 atau l 500.000, 43 karton pil berisi 430.000 butir.edit