Akui Damai, Rektor Unnes Cabut Laporannya Ke Polda Jateng

oleh -86 views

Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman

Semarang – Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman mengakui, akan mencabut laporannya ke Polda Jateng terhadap Yunantyo Adi Setyawan (YAS) pasca perdamaian atas gugatan perkara nomor 107/Pdt.G/2020PN Smg. Prof Fathur dan YAS yang menggugat masalah dugaan plagiasi disertasi memutuskan berdamai.

Pof Fathur Fokhman melalui kuasa hukumnya Muhtar Hadi Wibowo mengakui adanya kesepakatan pencabutan laporannya di Polda Jateng itu.

“Pencabut gugatan di PN Semarang oleh Penggugat (YAS) semestinya laporan pada Penggugat di Polda Jawa Tengah pada tgl 9 januari 2019 juga dicabut oleh Rektor Unnes Pof Fathur Fokhman, ” kata dia kepada INFOPlus dalam rilisnya, Kamis (23/7/2020) malam.

Dikatakannya, tuduhan dugaan plagiasi terhadap Prof Fathur Rokhman sudah berakhir sesuai Surat Keputusan (SK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2 April 2020.

”Dengan diterbitkannya surat itu maka sudah clear bahwa Pak Rektor UNNES Prof Fathur tidak terbukti melakukan plagiasi. Dengan begitu masalah sudah selesai,” kata Muhtar.

Muhtar menilai tuduhan dugaan plagiasi sengaja diarahkan untuk menjatuhkan Prof Fathur. Tuduhan plagiasi terakhir, katanya, bukan kali pertama.

Tuduhan itu telah muncul sejak 2014 saat pencalonkan Prof Fathur sebagai Rektor Unnes. Saat itu Prof Fathur Rokhman dituduh melakukan plagiasi ketika menulis artikel di jurnal Litera,” ungkap Muhtar.

”Tuduhan tersebut telah dikaji oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dan dinyatakan secara tegas saat itu Prof Fathur tidak melakukan plagiasi. Tuduhan plagiasi kembali dituduhkan kepada Prof Fathur pada tahun 2018 ketika kembali mencalonkan diri menjadi Rektor Unnes untuk periode kedua. Rektor Unnes difitnah kembali dengan tuduhan melakukan plagiasi dalam penulisan disertasi saat menempuh pendidikan S3 di UGM,” lanjutnya.

Tak Komentar

Terpisah, YAS yang dikonfirmasi perihal itu menolak memberikan pernyataan dan komentarnya atas perdamaiannya.

“Coba tanya ke Mas Deo pengacara saya mas,” katanya.

“Ya intinya saling cabut saja,” lanjutnya.

Sementara Michael Deo, pengacara YAS yang juga dikonfirmasi tak memberikan tanggapan.

Gugatan YAS melawan Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman dan Rektor UGM Prof Panut Mulyono dan Kapolda Jateng di Pengadilan Negeri Semarang berakhir damai. Salah satu poin kesepakatannya, Tergugat Prof Fathur Rokhman harus mencabut laporannya ke polisi pada tanggal 9 Januari 2020 di Polda Jateng sesuai surat perintah penyelidikan Nomor: Sp. Lidik/18/IV/2020/Ditreskrimum Polda.

Kesepakatam damai tertuang dalam akta perdamaian nomor 107/Pdt.G/2020/PN Smg pada Selasa, 14 Juli 2020. Perdamaian ditanda tangani Prof Fathur Rohkhman dan YAS.

Kedua pihak sepakat mencabut gugatan dan laporannya. Putusan perdamaian dijatuhkan pada 21 Juli 2020 oleh majelis hakim Eko Budi Supriyanto selaku hakim ketua, Dewi Perwitasari dan Arkanu (anggota).

YAS, mantan wartawan, yang kini menjadi pengacara dan juga anggota presidium Gusdurian Jawa Tengah-Yogyakarta itu sebelumnya menggugat terkait laporan dugaan plagiasi disertasi Prof Fathur ke UGM pada 2018. Disertasi berjudul “ Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Dwibahasa : Kajian Sosiolinguistik di Banyumas” atas nama Fathur Rokhman pada program Doktor Ilmu Budaya (Linguistik) pada Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta Tahun 2003.

Buntut atas laporan itu, YAS juga dilaporkan Sang Rektor ke kepolisian berbekal surat itu atas tuduhan pencemaran nama baik.

YAS awalnya merasa ditelikung dan dicurangi. Ia merasa keberatan dengan materi aduan Prof Fathur yang dinilainya menyalahgunakan Surat Pernyataannya tertanggal 12 Desember 2019.

Sebelumnya, Prof Fathur pernah mengajak mediasi dirinya. Kala itu, YAS menandatangani surat pernyataan itu. Ia mengaku telah dipaksa membuat Surat Pernyataan dan Surat Pencabutan Aduannya tertanggal 23 Desember 2019 kepada UGM.

(far)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *